Ekspansionisme Indonesia dalam Aneksasi Papua Barat

SEBELUM mulai diskusi ini, pertama kita harus mengartikan dulu apa yang dimaksud ekspansionisme. Adalah motivasi atau keinginan suatu nasional untuk menggabungkan dan atau memperluas wilayah tambahan lain diluar batas nasionalnya. Motivasi ini didorong paling sedikit ada lima alasan para ekspansionis itu menyerbu suatu daerah  tertentu yaitu: 1) karena lebih banyak lebensraum yaitu tempat hidup dan kekayaan alam seperti minyak, gas, emas, tembaga, kayu, dan lain-lain. Jadi, pada dasarnya adalah alasan ekonomi. 2) demi mendemonstrasikan kekuatan nasional untuk mengintimidasi tetangga. 3)karena suatu ideologi nasionalisme yang besar, kekuasaan dan kekuatan nasional. 4) alasan irredentist yaitu untuk menemukan kembali bagian-bagian teritorial nasional yang telah hilang dan, alasan 5)ada suatu kepercayaan bahwa mempunyai sejarah nasional untuk mendirikan kembali misi kuno atau batas dongeng itu.

Dalam posisi ini, saya membatasi diri pada konteks nasional Indonesia, dalam hubungan dengan “ekspansionis Indonesia” untuk menganeksasi Papua Barat. Istilah aneksasi itu sendiri adalah suatu perampasan atau pencaplokan sebagian atau keseluruhan dari suatu wilayah lain secara paksa dengan menggunakan alat-alat pemaksa. Aneksasi selalu terkait dengan tindakan invasi atau agresif militer. Invasi adalah aksi militer dimana angkatan bersenjata suatu negara memasuki daerah suatu negara lain atau wilayah lain. Dengan maksud menguasai daerah tersebut atau merubah pemerintahan yang berkuasa.

Tujuan invasi itu adalah skala yang besar dan jangka panjang. Dibutuhkan suatu pasukan yang besar untuk mempertahankan daerah yang diinvasi atau dianeksasi. Lebih sering diklasifikasi sebagai serbuan, skirmis atau serangan invasi. Jadi, istilah ekspansi dan aneksasi merupakan simbol dari sehelai kertas. Aneksasi adalah pemaksaan kehendak dari satu pihak. Aneksasi berlawan dengan integrasi. Integrasi terjadi melalui konsensus sosial dari kedua pihak dalam posisi yang sama. Sedang aneksasi tidak. Dikaitkan dengan konteks Papua dalam Indonesia sulit dihindari dengan retorika apapun. Fakta dan bukti-bukti dapat meyakinkan kita bahwa telah terjadi sebuah aneksasi. Dimana Indonesia secara paksa menyerang dan menganeksasi Papua Barat. Maklumat Trikora dan agresi Mandala sebagai aksi invasi militer di Papua. Memperjelas argumentasi ini dibangun berdasarkan ada empat alasan.

Alasan pertama, tipis akhir langkah pertama. Fakta bahwa dari tahun 1950 hingga 1962 pemerintah Indonesia menekan rakyat Papua dan pemerintah Belanda untuk merebut Papua Barat dari kekuasaan Belanda. Tekanan ini dilakukan melalui berbagai macam cara seperti infitrasi, propaganda, mobilisasi masa, diplomasi politik, perundingan, dan sebagainya. Tetapi desakan pertama tersebut tidak berhasil. Karena Papua Barat bukan merupakan bagian dari Asia tetapi terpisah yaitu Melanesia. Karena itu, pada 1961 mengumumkan kemerdekaan Papua Barat. Tetapi setelah Indonesia merasa desakan pertama di atas tidak berhasil dan langkah terahir yang ditempuh adalah diselesaikan melalui invasi militer untuk penalukkan Papua Barat pada 1 Mei 1963 melalui maklumat Trikora dengan agresif militer yang disebut Mandala.  

Alasan kedua, propotisi ekspansionis. Fakta bahwa kebijakan pemerintah Indonesia selalu bergantung pada keinginan propotisi ekspansionis. Indonesia sudah pernah mendemonstrasikan itu dalam menyerbu Timor Timur, konfrontasi dengan Malasya pada 1963 – 1966 dan kampanye sebelum menguasai Papua Barat dari tahun 1950 hingga 1962, dan akhirnya benar-benar terbukti menaklukan Papua Barat pada 1 Mei 1963 melalui TRIKORA. Alasan kedua ini tentu saja berdasarkan bukti historis ekspansionisme Indonesia.

Ketika melihat alasan kedua ini merupakan satu rangkaian ihwal, tiga episode yang mendemonstrasikan di sekitar daerah-daerah perbatasan langsung dengan Indonesia, untuk mengarahkan penambahan atau perluasan wilayah. Di mana dengan mudah melompot ke wilayah lain, karena itu bukti bahwa Indonesia membuat konstitusi teritorial ekspansionisme. Ketika kita menguji motivasi dan dinamika politik dibalik dari setiap episode itu, dapat ditemukan bahwa bagaimanapun juga Indonesia didefinisikan sebagai ekspansionisme teritorial (territorial expansionism). Karena ketiga episode tersebut di atas jelas bahwa tidak ditemukan sesuatu faktor penyebab yang signifikan.

Dasar utama mereka terletak pada teori pembentukan negara “Indonesia Raya” atau ”greater Indonesian” suatu teori yang berasal dari Muhamad Yamin dan Presiden Indonesia pertama Sukarno dan tentu saja para pemimpin lain negara ini. Oleh karena itu, terus menerus memperluas batas nasional sesuai dengan batas historik dalam imperium kuno seperti Majapahit atau Sriwijaya. Tentu saja suatu fakta sejarah yang tidak benar dan salah besar karena teori tersebut sama sekali tidak terbukti dan salah besar.   

Alasan ketiga, analogi dengan fasisme. Adalah di mana paling sering menghadapi diantara kritikus radikal dari pemerintah Indonesia, yang oleh banyak orang disebut analogi fasisme. Alasannya adalah pernyataan cenderung ekspansionis itu tidak dapat dipisahkan untuk membangun struktur karakteristik militer atau authoritarian atau resim fasisme itu. Sejak Indonesia dibentuk hingga sekarang, tak dapat disangkal bahwa Indonesia sangat authoritarian, pemerintah basis militer (army-based government), yang dianggap selama ini ekspansionis dan agresif. Hampir sama dengan Mussolini di Italia atau Hitler di Jerman, atau Jepang sebelum usai perang.

Karena ideologi militeristik dan imperialistik, hal ini lebih kompleks karena kekuasaan militer mengendalikan sosial politik di Indonesia. Dasar karakteristik inilah Indonesia menyerbu dan menaklukkan Papua Barat melalui aksi militer. Fakta bahwa di Papua Barat, produk karakteritik fasisme ini tampil dalam bentuk pernyataan dan tindakan yang selama ini dianggap sangat militeristik. Tentu saja ini semua adalah produk dari resim fasisme tersebut yang dianggap fasistik dan provokatif.

Alasan keempat, expansionist Designs. Argumentasi ini tidak terlepas dari beberapa alasan yang telah disebutkan di atas. Indonesia selain mempunyai pengalaman historis ekspansi dan struktur karakteristik militer yang authoritarian atau resim fasisme juga memiliki jumlah personel militer yang lebih besar di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik khususnya Kepulauan Melanesia, Polinesia dan Mikronesia (diluar teritorial Amerika). Dari segi penduduk, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar yang siap memobilisasi. Karena karakteristik mereka telah terbentuk resim fasisme melalui milisi. Di mana fakta ini dapat dilihat dari berbagai aksi yang pernah terjadi misalnya Timor Timur pasca referendum 1999, kasus Ambon dan Moso. 

Desain ekspansi Indonesia ini dapat diketahui dari berbagai sumber bacaan dan referensi yang tersedia. Dalam tulisan-tulisan ini secara jelas dapat menunjukkan motivasi dan desain Indonesia untuk berekspansi ke kawasan-kawasan lain yang telah disebutkan dalam teori greater Indonesian itu. Dalam Mackie (1986), telah membongkar motivasi dan desain Indonesia yang berekspansi ke Papua New Guinea (PNG) dan Australia. Setelah mereka berhasil  menganeksasi Papua Barat bagian barat pulau New Guinea ini. Dengan itu, dia dengan mudah melompat ke bagian timur di Papuan New Guinea.

Fakta bahwa pemerintah Indonesia menekan Papua New Guinea membantu dari segi kemiliteran dengan kesepakatan mencoba membatasi perlawanan rakyat Papua Barat dan masalah lintas batas yang tidak mencari tempat berlindung di wilayah timur. Beberapa tahun terakhir ini pesawat-pesawat militer Indonesia melewati batas lintas dan terakhir dua pesawat tempur Indonesia mengindimasi pesawat sipil PNG membawa perdana menteri dari Singapura. Ini sebagai deretan permintaan pertama. Kalau permintaan ini ditolak dari permulaan, ultimatum terakhir adalah aneksasi Papua New Guinea secara keseluruhan. Karena Indonesia tidak punya alasan lain yang bisa dipercaya untuk lebih banyak desain buruk lain.

Kembali kepada penciptaan teori Indonesia Raya itu sendiri didasari oleh dua asumsi yakni historis imperium kono Sriwijaya-Majapahir dan penyebaran bahasa. Kedua asumsi tersebut digunakan Muhamad Yamin dan Sukarno dalam kampanye menciptakan teori Indonesia Raya. Penyebaran bahasa yang dimulai dari Madagasgar di ujung benua Afrika ke arah barat Kamboja utara, meliputi kepulauan Polinesia hingga di Kepulauan Fiji ujung timur Melanesia disebutkan dalam teori itu.

Hal ini dapat dilihat ketika Yamin mempromosikan teori tersebut dalam berdebatan di bulan Juni 1945 kepada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Dalam teori ini wilayah yang merupakan bagian dari Indonesia Raya itu dimulai dari Madagasgar, ke arah barat di Kamboja utara, Thailand, Borneo utara dan Malaya, Jepang, Filipina, Timor Timur dan Papua Barat. Tetapi di mana dalam berdebatan tersebut Muhamad Yamin dan Sukarno mendukung teori ini sedangan Mohamed Hatta dan Agus Salim menolaknya.     

Setelah Indonesia terbentuk wilayah-wilayah yang masuk dalam teori itu tidak berhasil merebut semuannya. Teritorial-teritorial itulah telah menjadi desain ekspansi Indonesia jangka panjang. Hal ini bukan tidak mungkin, Indonesia hendak mewujudkan motivasi itu salah satu desain adalah diusahakan untuk mengeksploitasi sentimen nasionalis pada basis untuk kebesaran historis. Dalam indokrinasi pengajaran sejarah dan patriotisme Indonesia di sekolah-sekolah, akademik militer dan di berbagai pelatihan atau kursus, yang dapat dipastikan berlanjut untuk mempersatukan dengan elemen “fantasi Yaminisme” itu. Kemudian dipelihara dan dibangun sebagai suatu paham dasar bergerakan ekspansi untuk mewujudkan teori “greater Indonesian” itu.

Kini ideologi muncul dengan beberapa partai politik di Indonesia semisal Gerindra. Dalam berbagai kajian menunjukkan Papua secara geologis, geografis, kultural dan historis tidak memiliki ikatan tertentu dalam struktur secara internal. Dalam berbagai konspirasi internasional atas papua pun bangsa Papua sebagai subjek tidak dilibatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dengan fakta-fakta itu dapat meyakinkan kita bahwa Papua di dalam NKRI adalah sebuah fakta ANEKSASI.

oleh Ibrahim Peyon

Gubernur Papua Lantik Bupati Yalimo

Setelah tertunda sebanyak tiga kali, akhirnya Gubernur Papua Lukas Enembe melantik Er Dabi dan Lakius Peyon menjadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo periode 2016 – 2021 di Elelim.

Gubernur Papua Lukas Enembe berfoto bersama usai melantik Er Dabi dan Lakius Peyon menjadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo periode 2016 – 2021 di Elelim pada Jumat 15 Juli 2016. foto paskal keagop

PELANTIKAN bupati dan wakil bupati Yalimo hasil Pemilu kepala daerah serentak pada 9 Desember 2015 itu dilakukan di Elelim, pada Jumat 15 Juli lalu. Jadwal pelantikan bupati dan wakil bupati Yalimo semula direncanakan pada 15 Juni tapi ditunda selama sebulan hingga baru bisa dilaksanakan pada Jumat 15 Juli lalu.

Penundaan waktu pelantikan selama sebulan dari 15 Juni sampai 15 Juli itu karena disesuaikan dengan agenda kerja pemerintah Provinsi Papua. Sehingga waktu pelantikan ditunda sebanyak tiga kali. Semula dijadwalkan 15 Juni, ditunda ke 21 Juni dan ditunda lagi ke 28  Juni. Dan akhirnya pelantikan itu bisa dilakukan oleh Gubernur Papua Lukas Enembe pada Jumat 15 Juli di lapangan upacara kantor bupati Yalimo di Elelim.

Penundaan waktu pelantikan itu membuat masyarakat dan massa pendukung pasangan calon bupati terpilih di Yalimo gelisah dan geram, mereka minta Gubernur Papua, Lukas Enembe segera melantik bupati dan wakil bupati Yalimo hasil Pemilu kepala daerah serentak 9 Desember 2015 lalu.    

Ribuan undangan dan masyarakat dari berbagai wilayah di Kabupaten Yalimo, Wamena dan sekitarnya hadir menyaksikan pelantikan Er Dabi dan Lakius Peyon menjadi Bupati dan Wakil Yalimo periode 2016 – 2021 di Elelim.

Gubernur Papua Lukas Enembe dalam sambutan pelantikan itu mengharapkan Er Dabi dan Lakius untuk memajukan Kabupaten Yalimo. Sudah banyak hal yang telah dilakukan  Er Dabi dalam membangun Kabupaten Yalimo selama lima tahun pertama, tetapi masih banyak lagi yang harus dibangun pada lima tahun kedepan.

“Kita harus bisa tinggalkan kenangan yang lebih baik. Sebab kalau kita tidak tinggalkan sesuatu yang baik kepada masyarakat, berarti kita tidak pernah ada nama,” pesan Lukas Enembe.

Sekda Papua Hery Dosinaen bersama pimpinan TNI, Polri dan Pengadilan hadir dalam acara pelantikan pasangan bupati Yalimo periode 2016 – 2021 di Elelim. foto paskal keagop.

Gubernur Papua berharap apa yang sudah dibangun pada lima tahun pertama itu bisa lebih ditingkatkan lagi pada pemimpinan kedua Er Dabi di Yalimo, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, infrastruktur, dan bidang pembangunan lainnya.

“Siapkan dan tingkatkan pendidikan mulai dari tingkat PAUD sampai perguruan tinggi. Sehingga ada anak-anak Yalimo yang kita bisa kirim keluar negeri”,  harap Lukas Enembe.  

Kabupaten Yalimo merupakan wilayah yang strategis. Sebab menjadi daerah penyangga Kabupaten Jayawijaya sebagai daerah dataran rendah. ”Saat ini kita sedang membangun jalan tembus Wamena, Yalimo, Mamberamo dan Jayapura, dan masih ada sekitar 70 kilo meter sampai 80 kilo meter yang belum tembus. Saya berharap bupati dan wakil bupati Yalimo ikut berpartisipasi dalam program ini. Termasuk pembangunan hydropower yang memanfaatkan Sungai Mamberamo”, ujar Lukas Enembe.

Selain melaksanakan program pembangunan untuk memajukan daerah, Gubernur Papua juga meminta Er Dabi agar mempersiapkan kader-kader yang akan memimpin Kabupaten Yalimo kedepan. Persiapan kader-kader ini sangat penting untuk menjaga kontinuitas pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Yalimo.

Masyarakat memadati lapangan upacara menyaksikan pelantikan Er Dabi dan Lakius Peyon menjadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo oleh Gubernur Papua Lukas Enembe di Elelim pada Jumat 15 Juli 2016. foto paskal keagop.

Di akhir sambutan Gubernur Papua Lukas Enembe, pasangan Bupati dan Wakil Bupati Yalimo, Er Dabi dan Lakius Peyon menyanyikan lagu berjudul ‘Maju, Sejahtera dan Berdaya Saing’. “Lagu ini kami persembahkan untuk Gubernur Papua, para undangan dan masyarakat yang hadir di tempat ini”, ujar Er Dabi yang disambut riuh tepuk tangan masyarakat di lapangan upcara kantor bupati Yalimo.

Usai itu dilanjutkan dengan pelantikan Letink Peyon Dabi menjadi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Yalimo oleh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Papua Yulce Wenda Enembe.

Pelantikan Er Dabi dan Lakius Peyon menjadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo periode 2016 – 2021 oleh Gubernur Papua Lukas Enembe di Elelim pada Jumat 15 Juli lalu dihadiri Forkopimda Provinsi Papua, bupati dan wakil bupati Yahukimo, bupati Mamberamo Tengah, bupati Lanny Jaya, bupati Biak Numfor dan wakil bupati Jayawijaya serta ribuan masyarakat yang datang dari seluruh kampung di wilayah Kabupaten Yalimo.

Sebelum dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo periode 2016 – 2021, Er Dabi adalah Bupati Yalimo periode 2010 – 2015 berpasangan dengan Arkelaus Asso, sedangkan Lakius Peyon adalah Wakil Ketua II DPRD Yalimo periode 2014 – 2019. Keduanya berpasangan maju dalam pencalonan bupati dan wakil bupati Yalimo pada Pemilu kepala daerah serentak, 9 Desember 2015 lalu dan berhasil dipilih rakyat untuk memimpin Yalimo selama lima tahun mendatang.

paskalis keagop, gabriel maniagasi &

alfonsa wayap (elelim)