Duka di Tigi Barat

Kematian orang dalam jumlah banyak pada waktu
yang singkat tidak hanya baru terjadi di Tigi Barat Kabupaten Deiyai. Tapi itu
terjadi berulang-ulang di beberapa kabupaten di Papua dalam kurun kurang dari
10 tahun terakhir. Apakah ini terjadi karena penyakit atau diserang virus
khusus yang diciptakan Tuhan untuk hanya mematikan orang asli Papua?


Perayaan Hari Anak Nasional di Kabupaten Deiyai. foto Humas dan Protokol Setda Kabupaten Deiyai/tspp.

SEBANYAK 31 bayi dan
Balita meninggal akibat berbagai penyakit dalam kurun tiga bulan di wilayah
Distrik Tigi Barat Kabupaten Deiyai, dan baru diketahui masyarakat luas pada
pekan kedua Mei 2017 lalu. Ada banyak petugas kesehatan di lapangan, tapi hanya
berdiam di tempat.

Kabarkematian 31 bayi dan Balita di empat
kampung di Distrik Tigi Barat dalam kurun tiga bulan ini mengagetkan semua
pihak. Orang pun rame-rame kirim tim ke lokasi kejadian untuk memastikan
penyebab kematian bayi dan Balita di lima Kampung: Digikotu, Piyakedimi,
Yinidoba, Epanai, dan Kampung Debey.

Kematian itu tidak
terjadi secara bersamaan, tapi berbeda hari dan minggu. Namun terjadi dalam
hitungan waktu tiga bulan dan baru diketahui masyarakat pada pekan kedua Mei.

Menurut hasil
pengumpulan data yang dilakukan dua tim gabungan satuan tugas kaki telanjang
(Satgas Kijang) beranggotakan 16 orang yang dikirim Dinas Kesehatan Provinsi
Papua dan Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai bahwa kematian 31 bayi dan Balita
itu akibat terserang virus campak atau serampa, yang terjadi dalam kurun waktu
beberapa hari terakhir.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
Papua, drg. Aloysius Giay mengatakan informasi mengenai kematian bayi dan
Balita di Tigi Barat diperolehnya dari kepala dinas kesehatan Deiyai yang
menyatakan ada 31 bayi dan Balita meninggal akibat virus campak. Hanya belum
bisa dipastikan apakah kasus anak-anak meninggal itu terjadi dalam seminggu
atau dalam waktu yang berbeda.

Kasus yang ditemukan
adalah campak atau serampa. Media penyebaran virus campak melalui udara dan
air. Virus ini sering menyerang anak-anak yang sistem kekebalan tubuhnya buruk
atau yang belum pernah diberikan vaksin.


Masyarakat Distrik Tigi Barat kabupaten Deiyai. foto paskalis keagop/tspp.

Campak lebih mudah
menular melalui udara, seperti bersin, batuk, dan kontak langsung dengan
penderita.  Jika seseorang atau anak
menderita campak atau cacar air akan terlihat dari adanya bintik-bintik merah
atau ruam kemerahan di pipi dan kemudian akan tersebar secara merata di sekujur
tubuh.

“Sehingga kalau ada
yang ditemukan gejala-gejala seperti ini disarankan yang bersangkutan tidak
boleh keluar rumah selama 14 hari, dan pencegahannya bisa dilakukan dengan cara
minum obat penurun panas, obat pereda batuk dan pilek serta bedak yang
mengandung antihistamin atau juga antibiotik untuk mengurangi gatal-gatal”,
jelas Aloysius  Giay.

Sekretaris Dinas Kesehatan
Provinsi Papua, dokter Silwanus Sumule mengatakan apa yang terjadi di Distrik
Tigi Barat Kabupaten Deiyai belum bisa dikatakan sebagai kejadian luar biasa
(KLB). Tim gabungan beranggotakan 16 orang Satgas Kijang dari Dinas Kesehatan Provinsi
Papua dan Kabupaten Paniai telah dikirim ke lokasi kejadian untuk mengecek
apakah 31 anak yang meninggal itu valid atau tidak, termasuk memastikan
penyebab kematian anak.

Kondisi pelayanan kesehatan
di Kabupaten Deiyai mengalami masalah, raport pelayanan kesehatannya sangat
rendah. “Sehingga kami dari provinsi sebagai pembina pun harus turun tangan.
Saat menerima kabar kejadian, kami hubungi kepala Dinas Kesehatan Deiayi juga
sulit terhubung ”, ujar dokter Sumule.


Danau Tigi di Kabupaten Deiyai. foto paskalis keagop/tspp.

Silwanus menambahkan,
untuk mencegah kasus seperti ini, maka petugas di lapangan terutama yang berada
di Puskesmas untuk melakukan pelayanan keliling. Tidak bisa menunggu saja
masyarakat atau pasien datang ke Puskesmas. “Kasus ini harus menjadi
pembelajaran di lapangan bahwa petugas jangan hanya diam di tempat”, tegasnya.

Kepala Distrik Tigi
Barat, Fransiskus Bobi membenarkan adanya kematian 31 bayi dan Balita. Jumlah
itu merupakan akumulasi dalam kurun tiga bulan terakhir, Februari –April hingga
pekan kedua Mei. Untuk penanganannya, dia telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan
Deiyai dan Satgas Kijang untuk memberikan pelayanan kesehatan dan lainnya di
empat kampung di wilayah Distrik Tigi Barat.

Jumlah bayi dan Balita
yang dikabarkan meninggal terserang virus campak, semula dikatakan ada sekira
40 anak, tapi setelah diklarifikasi oleh tim dinas kesehatan dan satgas kaki
telanjang, jumlahnya menjadi 31 bayi dan Balita yang jadi korban akibat
terserang beberapa jenis penyait, tidak hanya disebabkan oleh virus serampa
atau campak”, ujar Bobi saat ditemui di Abepura.

Awal kejadian bayi dan Balita
meninggal secara berturut dalam tiga bulan terakhir di empat kampung itu, hanya
menjadi bahan pembicaraan di masyarakat. Sehingga, setelah dicek, ternyata
benar. Tapi meninggalnya tidak secara bersamaan.

Salah seorang ibu rumah
tangga yang kehilangan dua anak adalah Sisila Goo, warga Kegago Kampung Piyakedimi
Distrik Tigi Barat. Kedua anaknya, seorang laki-laki bernama Domin Pigome
berusia setahun enam bulan dan seorang anak perempuan bernama Marlin Pigome
beruisa tiga tahun. Keduanya meninggal terserang virus campak pada pekan kedua
Mei.

 Keluarga Thomas Agapa dan Yustina Pigome,
warga Kampung Digikotu ini memiliki 10 anak. Anak perempuannya yang bungsu
bernama Yulita Agapa berusia setahun meninggal di pekan pertama Mei akibat
terserang virus serampa atau campak.

“Sakit yang diderita
Yustina cuma panas tinggi dan sesak napas. Sehingga ayahnya tidak berpikir
untuk harus bawa ke rumah sakit atau Puskesmas karena sakitnya tidak berat.
Ternyata anak itu meninggal”, ujar Frans Bobi.

Dua anak dari keluarga Agustinus
Badii, juga meninggal akibat terserang virus serampa. Kabar kematian dua anak
itu disampaikan Agustinus saat diwawancarai tim investigasi medis yang dipimpin
dokter Indah Ernawati di Balai Kampung Yinidoba, pada 11  Juli.

Bupati Deiyai, Dance
Takimai telah memerintahkan kepala dinas kesehatan untuk terus melakukan
pemeriksaan kondisi kesehatan masyarakat pasca musibah. Berbagai tudingan
miring kepada pemerintah Kabupaten Deiyai, itu wajar saja, sebab orang
meninggal dalam jumlah banyak pada waktu yang singkat. “Tim Kemenkes telah
datang ambil sampel untuk memastikan penyebab kematian bayi dan Balita di
wilayah Tigi Barat”.

Kabar meninggalnya 31
bayi dan Balita di Tigi Barat dalam kurun tiga bulan dua minggu telah menarik
perhatian banyak pihak. Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Kementerian Kesehatan
RI,  Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai dan
Deiyai, termasuk Komisi Nasional Hak Azasi Manusia juga telah turun ke Deiyai
untuk memastikan penyebab kematian bayi dan Balita, sekaligus memberikan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Kepala Kampung
Yinidoba, Yulianus Bobii, mengatakan peristiwa kematian bayi dan Balita yang
terjadi di kampungnya sangat menyedihkan. “Saya harap semoga kasus seperti ini
tidak boleh terjadi lagi di masa yang akan mendatang”.

paskalis
keagop

Generasi Indonesia di Ambang Kepunahan

“Generasi muda yang lebih banyak menjadi
korban penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang. Jika tidak dicegah
dengan segera, maka generasi muda Indonesia akan punah”, ujar Kepala Dinas
Sosial Provinsi Papua, Ribka Haluk.  


Kepala Dinas Sosial Provinsi Papua, Ribka Haluk, Aisyah Arifin dan peserta pelatihan narkoba. foto paskalis keagop/tspp

JUMLAH korban
penyalahgunaan narkotika, psikotorapika dan zat adiktif lainnya (Napza) di
Indonesia terus meningkat. Usia mereka mulai dari 10 sampai 59 tahun. Menurut
Kepolisian Daerah Metro Jaya Jakarta, korban penyalahgunaan Napza hingga 2015
lalu saja mencapai 5,8 juta orang. Dari jumlah itu, siswa sekolah menengah
pertama yang menjadi korban salah gunakan Napza sebanyak 1.424 siswa. 

Sementara siswa SMP dan
SMA di Papua yang menjadi korban salah gunakan Napza dalam kurun 2015 hingga
2016 yang ditemukan Badan Narkotika Nasional Provinsi Papua mencapai 409 remaja
yang tercatat positif menggunakan Narkoba. Dari jumlah itu, empat orang
diantaranya sudah meninggal karena overdosis dan terjangkit virus HIV/AIDS.

Kepala Dinas Sosial
Provinsi Papua, Ribka Haluk mengatakan program rehabilitasi sosial korban
penyalahgunaan Napza yang dilakukan Kementerian Sosial di Papua melalui Institut
Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang tugas dan wewenangnya dilaksanakan oleh
Yayasan Pemberdayaan Pendampingan Masyarakat Papua dan Papua Barat (YP2MP) yang
bermitra dengan Dinas Sosial Provinsi Papua selama setahun.

Dalam kurun waktu
setahun lalu, YP2PM sudah melakukan beberapa kegiatan di lapangan untuk
mendeteksi sedini mungkin adanya korban penyalahgunaan Napza, yang sudah
dilaksanakan bersama di beberapa wilayah, seperti di Distrik Unurum Guay dan
Nimbokrang Kabupaten Jayapura, Keerom dan Kota Jayapura.

“Ada beberapa pintu
masuk pengedar narkotika, khususnya jenis ganja. Ada yang masuk dari Papua New Guinea,
Pegunungan Bintang, Biak, ada daerah-daerah penyangga serta ada sekira sembilan
titik rawan masuknya narkotika di Papua”, ujar Ribka .


Peserta pelatihan Napza di Diklat Sosial Kamkey, Abepura, Jayapura. foto paskalis keagop

Dinas Sosial Provinsi
Papua melalui IPWL sudah bekerja bersama dengan beberapa institusi lain seperti
BNN Papua, Polri, TNI, dan beberapa stakeholders. Sementara ini pemerintah
Provinsi Papua sedang bekerjasama untuk deteksi dini, melakukan rehabilitasi sosial
dan upaya pencegahan.

Instruksi Presiden RI
Joko Widodo bahwa Indonesia saat ini darurat Narkoba. Maka, Ribka mengajak
seluruh komponen masyarakat di Papua juga harus menyikapinya secara serius,
karena  tiga perempat dari jumlah penduduk
Papua saat ini, khususnya anak-anak remaja yang sedang bersekolah sudah banyak yang
menjadi pengguna Napza.

Pengguna Napza tidak
mengenal status sosial seseorang. Anak orang kaya, anak pejabat atau anak orang
miskin, hampir semua anak usia sekolah dari berbagai status sosial sudah
menjadi pengguna Napza. Napza sudah masuk ke sekolah-sekolah.

“Sehingga pada
kesempatan ini saya mengajak keluarga-keluarga sebagai basis utama kehidupan,
mari kita bersama-sama menjaga anak-anak kita dari pergaulan-pergaulan yang
mengarah pada Narkoba”, ajak Ribka Haluk dalam sambutan pembukaan pelatihan
bimbingan teknis kader pencegahan dan penanggulangan Napza di wilayah Papua di
Diklat Sosial Kamkey, 25 Juli lalu.

Menurut Ribka, banyak
daerah terpencil di luar dari pusat kota menjadi sasaran pengedaran Napza.
Pengedar Napza berasal dari golongan ekonomi kaya, sehingga mereka bisa masuk
mempengaruhi banyak pihak dengan berbagai cara. Sasaran utama pengedaran Napza
adalah generasi muda Indonesia. Sehingga jika tidak ditangani dengan baik dan
segera oleh semua pihak, maka akan mengancam masa depan kehidupan generasi muda
Indonesia.

“Hingga kini ada 300
korban pengguna Napza yang menghuni di Lembaga Pemasyarakatan Abepura, dan ada sekira
300 lebih pengguna Napza yang terdeteksi. Jumlah ini tidak seimbang dengan
tenaga pencegahan yang tersedia di Papua”, ujarnya.

Kepala Sub Bidang
Direktorat Kelembagaan dan Sumberdaya Direktorat Rehabilitasi Sosial Korban
Penyalahgunaan Napza Kementerian Sosial RI, Prayitno, yang menjadi salah satu
pembicara utama pelatihan bimbingan teknis kader pencegahan dan penanggulangan
Napza di wilayah Papua di Diklat Sosial Kamkey, juga mengajak semua pihak
merapatkan barisan untuk menanggulangi masalah Narkoba.

Untuk melakukan
tindakan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan Napza, maka TNI, Polri,
BNN melaksanakan tugas pencegahan dan pemberantasannya, pemerintah daerah
bertugas di bidang pencegahan agar masyarakat tidak menggunakannya, Kementerian
Kesehatan merehabilitasi secara medis, Kementerian Sosial melalui IPWL
melaksanakan tugas merehabilitasi sosial korban penyalahgunaan Narkoba.

Ada dua rehabilitasi,
yaitu rehabilitasi medis oleh Kementerian Kesehatan dan rehabilitasi sosial
oleh Kementerial Sosial. ”Masing-masing lembaga ini harus bisa bekerjasama
merapatkan barisan untuk pencegahan maupun rehabilitasi.  Pada kesempatan ini, sekaligus saya
mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas diselenggarakannya bimbingan
teknis pencegahan dan penanggulangan bahaya narkotika di Provinsi Papua”, ujar
Prayitno.


Kepala Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Papua, Sefnat B. Layan. foto paskalis keagop/tspp.

Kepala Bidang
Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Papua, Sefnat B. Layan, mengatakan selama
kurun 2015 hingga 2016, BNN Papua telah menemukan 409 remaja yang tercatat
positif menggunakan Narkoba. Dari jumlah itu, empat orang diantaranya sudah
meninggal karena overdosis dan terjangkit virus HIV/AIDS. Kebanyakan pengguna
adalah anak-anak usia produktif, bahkan ada anak usia sekolah dasar.

Pada 2015 lalu, jumlah
pengguna narkotika mencapai 334 orang, sedangkan pengguna Napza pada 2016 yang
diketahui sebanyak 75 orang. Sebagian besar pengguna Narkoba adalah siswa SMP
dan SMA. Disinyalir ada murid sekolah dasar yang jadi pengguna narkoba.

“Ada murid sekolah
dasar yang jadi pengguna Narkoba, namun belum terungkap. Mereka ini memiliki
komunitas tersendiri, dan menggunakan Narkoba secara kelompok atau secara
bersama”, ujar Sefnat Layan saat ditemui di Kamkey, Distrik Abepura Kota
Jayapura.

Ketua Yayasan
Pendampingan dan Pemberdayaan Masyarakat Papua dan Papua Barat (YP2MP), Aisyah
Arifin mengatakan kegiatan bimbingan teknis Napza bagi pekerja sosial di Papua
dilaksanakan atas kerjasama YP2PM dan Dinas Sosial Provinsi Papua dengan
mendatangkan tiga pembicara utama dari Kementerian Sosial RI di Jakarta.

Bimbingan teknis
dilaksanakan selama tiga hari, diikuti peserta ada yang guru, mahasiswa,
aktivis, relawan, mantan pengguna Napza dan pekerja sosial yang datang dari
Kabupaten Keerom, Jayapura dan Kota Jayapura.

paskalis keagop