Gubernur Papua Lantik Bupati Yalimo

Setelah
tertunda sebanyak tiga kali, akhirnya Gubernur Papua Lukas Enembe melantik Er
Dabi dan Lakius Peyon menjadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo periode 2016 –
2021 di Elelim.


Gubernur Papua Lukas Enembe berfoto bersama usai melantik Er Dabi dan Lakius Peyon menjadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo periode 2016 – 2021 di Elelim pada Jumat 15 Juli 2016. foto paskal keagop

PELANTIKAN bupati dan wakil bupati Yalimo hasil Pemilu kepala daerah
serentak pada 9 Desember 2015 itu dilakukan di Elelim, pada Jumat 15 Juli lalu.
Jadwal pelantikan bupati dan wakil bupati Yalimo semula direncanakan pada 15
Juni tapi ditunda selama sebulan hingga baru bisa dilaksanakan pada Jumat 15
Juli lalu.

Penundaan waktu pelantikan selama sebulan dari 15 Juni sampai 15 Juli itu
karena disesuaikan dengan agenda kerja pemerintah Provinsi Papua. Sehingga
waktu pelantikan ditunda sebanyak tiga kali. Semula dijadwalkan 15 Juni,
ditunda ke 21 Juni dan ditunda lagi ke 28 
Juni. Dan akhirnya pelantikan itu bisa dilakukan oleh Gubernur Papua
Lukas Enembe pada Jumat 15 Juli di lapangan upacara kantor bupati Yalimo di
Elelim.

Penundaan waktu pelantikan itu membuat masyarakat dan massa pendukung
pasangan calon bupati terpilih di Yalimo gelisah dan geram, mereka minta
Gubernur Papua, Lukas Enembe segera melantik bupati dan wakil bupati Yalimo
hasil Pemilu kepala daerah serentak 9 Desember 2015 lalu.    

Ribuan undangan dan masyarakat dari berbagai wilayah di Kabupaten Yalimo,
Wamena dan sekitarnya hadir menyaksikan pelantikan Er Dabi dan Lakius Peyon
menjadi Bupati dan Wakil Yalimo periode 2016 – 2021 di Elelim.

Gubernur Papua Lukas Enembe dalam sambutan pelantikan itu mengharapkan Er
Dabi dan Lakius untuk memajukan Kabupaten Yalimo. Sudah banyak hal yang telah dilakukan
 Er Dabi dalam membangun Kabupaten Yalimo
selama lima tahun pertama, tetapi masih banyak lagi yang harus dibangun pada
lima tahun kedepan.

“Kita harus bisa tinggalkan kenangan yang lebih baik. Sebab kalau kita
tidak tinggalkan sesuatu yang baik kepada masyarakat, berarti kita tidak pernah
ada nama,” pesan Lukas Enembe.


Sekda Papua Hery Dosinaen bersama pimpinan TNI, Polri dan Pengadilan hadir dalam acara pelantikan pasangan bupati Yalimo periode 2016 – 2021 di Elelim. foto paskal keagop.

Gubernur Papua berharap apa yang sudah dibangun pada lima tahun pertama itu
bisa lebih ditingkatkan lagi pada pemimpinan kedua Er Dabi di Yalimo, terutama
di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, infrastruktur, dan bidang
pembangunan lainnya.

“Siapkan dan tingkatkan pendidikan mulai dari tingkat PAUD sampai perguruan
tinggi. Sehingga ada anak-anak Yalimo yang kita bisa kirim keluar negeri”,  harap Lukas Enembe.  

Kabupaten Yalimo merupakan wilayah yang strategis. Sebab menjadi daerah
penyangga Kabupaten Jayawijaya sebagai daerah dataran rendah. ”Saat ini kita
sedang membangun jalan tembus Wamena, Yalimo, Mamberamo dan Jayapura, dan masih
ada sekitar 70 kilo meter sampai 80 kilo meter yang belum tembus. Saya berharap
bupati dan wakil bupati Yalimo ikut berpartisipasi dalam program ini. Termasuk
pembangunan hydropower yang memanfaatkan Sungai Mamberamo”, ujar Lukas Enembe.

Selain melaksanakan program pembangunan untuk memajukan daerah, Gubernur
Papua juga meminta Er Dabi agar mempersiapkan kader-kader yang akan memimpin
Kabupaten Yalimo kedepan. Persiapan kader-kader ini sangat penting untuk
menjaga kontinuitas pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Yalimo.


Masyarakat memadati lapangan upacara menyaksikan pelantikan Er Dabi dan Lakius Peyon menjadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo oleh Gubernur Papua Lukas Enembe di Elelim pada Jumat 15 Juli 2016. foto paskal keagop.

Di akhir sambutan Gubernur Papua Lukas Enembe, pasangan Bupati dan Wakil
Bupati Yalimo, Er Dabi dan Lakius Peyon menyanyikan lagu berjudul ‘Maju, Sejahtera dan Berdaya Saing’. “Lagu ini kami persembahkan untuk
Gubernur Papua, para undangan dan masyarakat yang hadir di tempat ini”, ujar Er
Dabi yang disambut riuh tepuk tangan masyarakat di lapangan upcara kantor
bupati Yalimo.

Usai itu dilanjutkan dengan pelantikan Letink Peyon Dabi menjadi Ketua
Tim Penggerak PKK Kabupaten Yalimo oleh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Papua
Yulce Wenda Enembe.

Pelantikan Er Dabi dan Lakius Peyon menjadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo
periode 2016 – 2021 oleh Gubernur Papua Lukas Enembe di Elelim pada Jumat 15
Juli lalu dihadiri Forkopimda Provinsi Papua, bupati dan wakil bupati Yahukimo,
bupati Mamberamo Tengah, bupati Lanny Jaya, bupati Biak Numfor dan wakil bupati
Jayawijaya serta ribuan masyarakat yang datang dari seluruh kampung di wilayah
Kabupaten Yalimo.

Sebelum dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo periode 2016 –
2021, Er Dabi adalah Bupati Yalimo periode 2010 – 2015 berpasangan dengan
Arkelaus Asso, sedangkan Lakius Peyon adalah Wakil Ketua II DPRD Yalimo periode
2014 – 2019. Keduanya berpasangan maju dalam pencalonan bupati dan wakil bupati
Yalimo pada Pemilu kepala daerah serentak, 9 Desember 2015 lalu dan berhasil
dipilih rakyat untuk memimpin Yalimo selama lima tahun mendatang.

paskalis keagop, gabriel maniagasi &

alfonsa wayap (elelim)

Bakar Batu Warnai Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati

Pelantikan bupati dan wakil bupati
dimeriahkan pesta rakyat bakar batu yang melibatkan masyarakat dari seluruh distrik
di Kabupaten Yalimo.


Masyarakat secara gotong royong menyiapkan 100 lubang untuk barakpen pada acara pelantikan Er Dabi dan Lakius Peyon jadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo periode 2016 – 2021 di Elelim pada Jumat 15 Juli 2016. foto paskal keaop.

JUMAT, 15 Juli
2016, sejak dini hari langit di kota Elelim, ibukota Kabupaten Yalimo
diselimuti awan tebal, yang kemudian diikuti hujan rintik-rintik dan turun hujan
deras. Tak lama kemudian hujan redah. Padahal sehari sebelumnya, langit llim sangat
cerah. Tak ada awan tebal apalagi hitam.

Cuaca sangat
cerah, sehingga puncak Gunung Sahyu yang menjadi simbol kebesaran Kabupaten
Yalimo itu tampak dengan jelas keperkasaan dan ketangguhannya. Meski hari
hujan, namun tidak mengurangi semangat masyarakat yang sudah beberapa hari
mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut acara pelantikan Er Dabi dan
Lakius Peyon menjadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo periode 2016 – 2021.

Demikian pula dengan
pemerintah daerah Kabupaten Yalimo, juga terlihat sangat sibuk menyiapkan
panggung kehormatan dan tenda-tenda untuk perayaan istimewa bagi orang nomor
satu dan nomor dua daerah ini.

Hari itu, di
alun-alun kota Elelim, bersebelahan dengan kantor bupati Yalimo, telah tergelar
tumpukan batu sepanjang 70 meter, lengkap dengan kayu yang siap dibakar untuk
keperluan acara bakar batu. Tumpukan batu ini dikerjakan beberapa hari sebelumnya
oleh masyarakat secara bergotong royong.

Dicela tumpukan
batu tersebut diselingi kayu bakar kering yang siap dijadikan pemicu untuk membakar
batu yang nantinya akan digunakan sebagai media panas memasak makanan secara
tradisional.


Pemerintah Kabupaten Yalimo menyembeli 270 ekor babi untuk acara pelantikan pasangan bupati dan wakil bupati Yalimo periode 2016 – 2021 di Elelim. foto paskal keagop.

Gaya dan cara
memasak ala bakar batu ini memang
menjadi sangat menarik, karena semua proses pengerjaannya dilakukan dalam
kebersamaan. Nyaris tidak ditemukan proses pengerjaan bakar batu dilakukan
seorang diri. Momentum bakar batu memang menjadi tradisi khusus dan khas di
Tanah Papua, lebih khusus di daerah Pegunungan Papua.

Kebiasaan
memasak dengan model “bakar batu” tidak hanya dikenal di daerah Pegunungan,
tapi juga di daerah pesisir. Di pesisir utara Papua, khususnya di Kawasan Teluk
Cenderawasih dikenal dengan sebutan Barapen.
Istilahnya berbeda namun maknanya sama saja, yakni memasak makanan dengan cara
memanfaatkan panas dari batu (steam).

Masyarakat di
pantai utara menyebutnya “barapen”,
namun di daerah pegunungan penyebutannya berbeda-beda. Misalnya, di Paniai
disebut Gapiia, sedangkan di Lembah
Baliem, Jayawijaya disebut Kit Oba Isogoa.

Apapun
istilahnya, artinya sama yakni ada batu yang dibakar kemudian dimanfaatkan
panasnya untuk mematangkan makanan. Seperti daging babi, sayuran dan umbi-umbian
(betatas, dan kasbi).

Proses bakar
batu di Yalimo, diawali dengan membakar batu yang telah ditumpuk sepanjang 70
meter itu sampai batu-batu itu menjadi panas dan terlihat memerah. Saking panasnya,
batu-batu itu sampai meledak-ledak. Namun ledakan itu semakin memacu semangat
mereka untuk melanjutkan proses memasak makanan secara massal.

Batu yang sudah
panas kemudian diangkat menggunakan sebuah batang kayu yang dibelah ujungnya untuk
dijadikan penjepit. Batu panas itu dijepit lalu diangkut ke lubang-lubang yang
sudah disiapkan dengan dilapisi alang-alang dan daun pisang, yang di atasnya ditumpuk
batu panas lagi.

Setelah itu
ditutup dengan daun pisang lalu diletakkan daging babi yang sudah
dipotong-potong sesuai ukuran yang diinginkan. Lalu ditutup lagi dengan
sejumlah daun pisang dan dimasukkan batu panas. Di atas batu panas itu ditutup
lagi dengan daun pisang. Setelah itu, dimasukkan sayur-sayuran, betatas,
singkong (kasbi) dan lain-lain.

Setelah itu
ditutup lagi dengan daun pisang lalu dimasukan batu panas dan ditutup dengan
daun pisang dan alang-alang. Setelah itu dibiarkan selama kurang lebih 60
menit. Biasanya dibiarkan waktunya agak lama. Dengan panas dari batu yang ada
membuat makanan akan matang secara alami.

Seorang warga
dari Kampung Apalapsili Yunus, yang ditemui di lokasi bakar batu menjelaskan
proses bakar batu dilakukan secara bersama-sama dengan semangat kekeluargaan,
karena untuk mendapatkan alang-alang warga harus mengambilnya dari hutan di
sekitar kota Elelim dengan beramai-ramai.

Alang-alang itu
memiliki fungsi yang baik untuk mengantar panas atau menyerap panas dari batu
yang dibakar dan dimasukkan ke dalam lubang di tanah bahkan alang-alang
tersebut juga berfungsi menahan bau tanah pada makanan. Panas batu yang
terserap itu membuat makanan terutama daging babi demikian empuk pada saat
dikunyah.

Yapinus Deal, seorang
mahasiswa yang ditemui di Elelim menjelaskan untuk ukuran bakar batu seperti
ini pihak panitia mengorbankan sedikitnya 270 ekor babi. Babi sebanyak itu dipotong
dan dibagi kepada seluruh masyarakat yang berdatangan dari seluruh distrik di
Kabupaten Yalimo dan masyarakat lain yang datang dari Wamena, Lanny Jaya,
Tolikara dan Mamberamo.

Pesta bakar
batu ini melibatkan seluruh rakyat di Kabupaten Yalimo, sehingga momentum ini
begitu menggairahkan warga. Mereka sangat antusias. Apalagi sehari sebelum acara
pelantikan bupati dan wakil bupati, rakyat dari berbagai kampung di Yalimo
sudah bergerak memasuki ibukota Kabupaten Yalimo, Elelim dengan berjalan kaki.

Tak peduli
hujan ataupun panas, mereka tetap antusias memadati halaman kantor bupati
Yalimo untuk menyaksikan Er Dabi dan Lakiyus Peyon dilantik menjadi Bupati dan Wakil
Bupati Yalimo yang baru periode 2016 – 2021 oleh Gubernur Provinsi Papua, Lukas
Enembe.

Meski bakar
batu menjadi momentum yang menggairahkan masyarakat, namun dalam event adat ini dapat kita pelajari
nilai-nilai kehidupan seperti yang dijelaskan Wakil Bupati Yalimo, Lakiyus Peyon,
di Elelim bahwa: 1) Bakar batu ini menjadi alat pemersatu seluruh warga
masyarakat. 2) pada acara bakar batu kita bisa mempelajari nilai-nilai
demokrasi seperti transparansi
(keterbukaan).

Artinya, semua
yang dilakukan terbuka di depan umum. Semua warga masyarakat mengetahui tujuan
dan apa yang sedang dilakukan. Tidak ada yang disembunyikan. Jadi bakar batu
mendorong mewujudkan sikap keterbukaan dari masyarakat. Akuntabilitas, maksudnya dalam momentum ini semua orang menunjukkan
tanggung jawabnya terhadap apa yang dikerjakannya.


Perempuan lebih berperan dalam acara bakar batu menyambut pelantikan Er Dabi dan Lakius Peyon jadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo oleh Gubernur Papua Lukas Enembe di Elelim pada Jumat 15 Juli 2016 lalu. foto paskal keagop.

“Makanya kita
dapat menyaksikan bagaimana warga mengambil tanggung jawabnya masing-masing
dalam menyukseskan acara bakar batu ini. Ada yang susun batu, ada yang gali
lubang, ada yang ambil alang-alang, ada yang panah babi, ada yang potong
daging, ada yang mengatur sayuran dan umbi-umbian dan lain sebagainya”, jelas
Lakius Peyon.

Nilai kerjasama. Acara bakar batu membutuhkan
kerjasama untuk menyelesaikan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari awal
sampai pada proses makan bersama. Semuanya membutuhkan kerjasama.

Nilai penerimaan. Dalam acara bakar batu, tidak ada
penolakkan, yang ada adalah penerimaan. Satu dengan yang lain saling menerima
dan makan sama-sama.

Nilai keadilan.Dalam penyajian makanan dalam acara bakar batu ini,semua orang akan makan makanan yang
sama, semua orang merasakan hal yang sama, dan menikmati apa yang ada secara
bersama-sama. Tidak ada perbedaan. Apalagi diskriminasi.

Nilai kejujuran.Dalamacara bakar batu, tidak ada kemunafikan, kabualan (kebohongan). Semuanya terbuka
dan jujur. Misalnya, jumlah babi yang dipanah untuk dimakan bersama semuanya
diumumkan secara terbuka, sehingga masyarakat yang hadir mengetahuinya.

Semangat Kebersamaan, acara bakar batu mempunyai
keunikan yakni semangat kebersamaan. Pada acara ini, masyarakat sangat
bersemangat, namun mereka tetap dalam kebersamaan.

Ketiga, bakar
batu menjadi media yang baik untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan
pembangunan. Tentu saja jika hal ini dapat dikelola untuk tujuan yang mulia.

gabriel  maniagasi (elelim)